Nganjuk, anjukzone.id – Bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah Indonesia yang dipicu oleh parameter cuaca seperti curah hujan ekstrem, suhu, kelembapan, dan angin telah menyebabkan fenomena seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, puting beliung, dan gelombang pasang. Salah satunya yang masih segar pada ingatan bangsa Indonesia adalah bencana banjir yang melanda di sejumlah wilayah Sumatera Utara dan Aceh hingga menelan banyak korban meninggal.
Ketua PWI Nganjuk, Bagus Jatikusumo menyampaikan bencana hidrometeorologi tersebut seringkali diperparah oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia seperti kerusakan lingkungan, perubahan tata guna lahan, dan kurangnya resapan air. Sehingga PWI Nganjuk bersama Forkopimda Nganjuk dan Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk) melakukan penyelamatan lingkungan dengan cara menanam 1000 pohon di lahan sekitar hutan lereng Gunung Pandan, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Selasa pagi, 16 Desember 2025.

“Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian insan pers terhadap lingkungan, sekaligus ikhtiar bersama mencegah bencana hidrometeorologi yang kian mengancam,” jelasnya.

Ketua PWI Nganjuk Bagus Jatikusumo siap menanam pohon Pule di Site Museum Tritik (foto_Sukadi)
Aksi Penanaman 1.000 Pohon PWI Nganjuk Tahun 2025 juga diikuti Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, Kapolres Nganjuk AKBP Henri Noveri Santoso, serta jajaran Forkopimda Nganjuk. Mereka bersama-sama ikut menanam di lingkungan Site Museum Tritik, sekitar hutan desa setempat.
Ketua PWI Nganjuk, Bagus Jatikusumo, mengatakan bahwa aksi penanaman ini bukan sekadar seremonial. Melainkan bagian dari komitmen jangka panjang PWI terhadap isu lingkungan.
“Kegiatan Aksi Penanaman 1.000 Pohon ini merupakan wujud nyata kepedulian insan pers terhadap pelestarian lingkungan hidup, sekaligus kontribusi PWI Nganjuk dalam upaya pencegahan bencana hidrometeorologi, menjaga keseimbangan alam, serta mewariskan lingkungan yang sehat dan lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Humas Kotasejuk, Sukadi, menjelaskan bahwa gerakan penanaman tidak hanya dilakukan di Desa Tritik. Selain 1.000 bibit di lokasi utama, penanaman juga menyasar empat titik lainnya.
Yakni di KPS Kedungsumber, Kedungnoyo sebanyak 1.000 bibit, lokasi fosil Stegodon 500 bibit, sepanjang Jalan Watudakon menuju Desa Tritik kiri dan kanan jalan sebanyak 2.000 bibit, serta Hutan Lindung Codes Tritik sebanyak 2.000 bibit.

Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro bersama anggota Kotasejuk menanam pule di lahan Site Museum tritik (foto_Sukadi)
Adapun jenis tanaman yang ditanam meliputi asem, tabebuya, mentega, trembesi, ringin, pule, dan palem ekor tupai.
“Simbolisnya dilakukan penanaman di Site Museum Tritik, tapi nantinya dilanjutkan di beberapa lokasi lain,” ujar Sukadi.
Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro mengapresiasi langkah PWI Nganjuk yang dinilainya sangat relevan dengan kondisi saat ini.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Akhir-akhir ini terjadi berbagai bencana di sejumlah daerah, seperti banjir di Aceh. Penanaman pohon menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga lingkungan dan meminimalkan risiko bencana,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kapolres Nganjuk AKBP Henri Noveri Santoso menyatakan dukungannya terhadap aksi hijau tersebut. Ia menilai keterlibatan masyarakat, pelajar, dan insan pers dalam kegiatan ini sangat strategis untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.
“Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Apa yang dilakukan PWI Nganjuk hari ini patut menjadi contoh, karena dampaknya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga oleh generasi yang akan datang,” pungkas Henri.
Reporter : Aries Trio Effendy
Editor: Deasy










