Oleh : Arkarna
Nganjuk, anjukzone.id — Langit di atas Jawa Timur mulai berubah warna. BMKG memprediksi bahwa musim hujan 2025/2026 akan datang lebih cepat dari biasanya, dengan puncak curah hujan. Puncak musim hujan 2025/2026 diprediksi banyak terjadi pada bulan November hingga Desember 2025 di Indonesia bagian barat. Dan bulan Januari hingga Februari 2026 di Indonesia bagian selatan dan timur.

Puncak musim hujan diprediksi SAMA hingga MAJU (terjadi lebih awal) dibandingkan dengan kondisi biasanya. tersimpan peringatan: perubahan iklim kini semakin sulit diprediksi, dan daerah seperti Nganjuk—yang diapit Pegunungan Wilis dan Pandan—berada di garis depan ketidakpastian tersebut.
Ketika Langit Menjawab dengan Caranya Sendiri
Berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, dari 74 zona musim (ZOM) di provinsi ini, 49 zona atau sekitar 66% diprediksi mulai diguyur hujan pada Oktober 2025, lebih cepat dibanding rata-rata historis beberapa tahun terakhir.
Curah hujan diperkirakan mencapai 1.000–2.000 mm di sebagian besar wilayah, rebtang ini tergantung zona musim dan karakteristik zona geografis tiap daerah.
Namun, BMKG juga mengingatkan potensi anomali cuaca ekstrem di masa peralihan musim — hujan lebat disertai angin kencang, terutama di kawasan lereng dan dataran tinggi. Fenomena ini berisiko menimbulkan banjir lokal, longsor, dan kerusakan infrastruktur air jika sistem konservasi hulu belum pulih.
“Curah hujan tinggi di awal musim hujan bukan berarti ancaman kekeringan usai. Justru saat transisi inilah potensi bencana hidrometeorologi meningkat,” tulis pernyataan BMKG dalam rilisnya, September 2025.
Wilis–Pandan: Sumber Air yang Menjadi Cermin Peradaban
Gunung Wilis, atau yang oleh masyarakat dikenal sebagai Gunung Ngliman, bukan sekadar bentang alam. Ia adalah penyangga air kehidupan bagi ratusan ribu warga di Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya. Namun, laporan berbagai lembaga lokal menunjukkan adanya penurunan debit sumber air dan berkurangnya tutupan hutan hulu selama sepuluh tahun terakhir.
Ketika mata air melemah, desa-desa di kaki gunung mulai merasakan dampak langsung:
sawah yang kering lebih cepat, pasokan air rumah tangga menurun, dan potensi gagal panen meningkat. Saat hujan deras datang tanpa jeda, wilayah yang sama menghadapi risiko lain: air limpasan dan tanah longsor.
Pertanyaan yang Masih Menggantung
Arkarna menelusuri beberapa laporan warga di Kecamatan Pace, Lengkong, Ngetos, Ngluyu — wilayah yang selama ini menjadi poros pertanian sekaligus titik rentan kekeringan. Lalu, bagaimana kesiapan sistem peringatan dini di tingkat desa ?
Apakah informasi sudah sampai ke perangkat desa, petani, guru, dan kepala dusun — atau berhenti di meja rapat tanpa diterjemahkan menjadi langkah konkret?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab oleh FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana), yang semestinya menjadi simpul komunikasi antar lembaga dan masyarakat.
FPRB memiliki peran strategis: bukan hanya menangani bencana, tapi membangun literasi iklim dan kesiapsiagaan sosial sejak dini, termasuk di sekolah dan komunitas.
Kebijakan yang Hidup, Bukan Sekadar Dokumen
Arkarna mencatat, sejumlah daerah yang memiliki FPRB aktif dan posko hidrometeorologi dengan jalur komunikasi yang baik menunjukkan peningkatan skor Indeks Ketahanan Daerah (IKD) hingga 0,3–0,5 poin per tahun bila ada intervensi kuat.
Ini menandakan bahwa kolaborasi nyata antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan media bukan hanya idealisme, tapi juga strategi bertahan hidup di tengah krisis iklim.
Kebijakan pengurangan risiko bencana tidak boleh berhenti di level administratif.
Ia harus menjadi bagian dari indikator kinerja utama (IKU) pimpinan daerah.
Karena, sejatinya, keberhasilan kepala daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri, tetapi dari kemampuan daerah bertahan dan belajar dari perubahan alam.
Dari Alam untuk Nurani: Pesan yang Tersisa
Hujan mungkin datang lebih cepat, tapi kesadaran sering datang terlambat.
Gunung Wilis dan Pandan tidak membutuhkan belas kasihan, hanya kepekaan dan pengabdian manusia untuk menjaga keseimbangannya.
FPRB, sekolah, dan pemerintah daerah perlu bekerja seperti aliran air: menghubungkan yang tinggi dengan yang rendah, yang teknis dengan yang spiritual, yang data dengan nurani.
Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah lama: “Bukan hujan yang menenggelamkan kita, melainkan ketidaksiapan untuk mendengarnya datang.”
Catatan redaksi :
Sumber: BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, DetikJatim, TuguJatim, dan staklim-jatim.bmkg.go.id (diakses Oktober 2025).
#Arkarna #JurnalismeBerkesadaran #MenulisDenganNurani
| #PerubahanIklim #KonservasiAir #GunungWilis #NganjukHijau |
| # #KesadaranAlam #NuraniIlahiah #SamadiBumiFPRB #Kesiapsiagaan #TangguhBencana #IKD
#BMKG #BPBD #NganjukTangguh #JatimSiaga |
Tentang Arkarna
Arkarna adalah jurnalisme berkesadaran yang lahir dari kesadaran ekologis dan nurani ilahiah.
Kami menulis bukan untuk menakuti, melainkan untuk menyadarkan — bahwa data hanyalah awal dari dialog antara manusia dan alam. Arkarna menulis dengan semangat jurnalisme berkesadaran — berpijak pada data, bernafas dalam nurani.









