Dari Situs ke Museum
Nganjuk, anjukzone.id – Desa Tritik di Nganjuk mulai mendapat perhatian setelah berbagai fosil muncul dari kawasan ini. Temuan yang beragam—mulai dari fosil vertebrata hingga invertebrata—memberikan gambaran bahwa wilayah ini menyimpan rekaman lingkungan purba yang kaya dan perlu dipahami lebih jauh.

Di antara temuan tersebut, satu penemuan menjadi titik penting: fosil gajah purba Stegodon trigonochephalus yang tersimpan dengan tingkat kelengkapan sekitar 70%. Kondisi seperti ini jarang terjadi dan memberikan peluang besar untuk memahami kehidupan masa lalu secara lebih mendalam.
Melihat nilai penting tersebut, Museum Geologi bersama Pemerintah Kabupaten Nganjuk memandang perlunya sebuah ruang yang mampu melindungi, menata, dan menjelaskan seluruh temuan Tritik dalam konteks yang tepat.
Dengan adanya museum ini, proses interpretasi data—mulai dari konteks lapisan tanah, jenis temuan, hingga gambaran kehidupan purba—dapat disampaikan secara lebih jelas, terstruktur, dan menarik.Museum Site Nganjuk tidak hanya menjadi tempat penyimpanan fosil, tetapi menjadi ruang naratif yang menghubungkan masa lalu dengan pemahaman masyarakat masa kini.
Layout Plan ini memperlihatkan bagaimana seluruh rangkaian cerita—dari geologi, fosil, hingga lanskap purba Nganjuk—diterjemahkan menjadi ruang pamer yang utuh. Setiap zona disusun untuk membawa pengunjung mengikuti alur waktu dan perubahan lingkungan secara runtut. Melalui tata letak ini, museum tidak hanya menampilkan koleksi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang jelas, terarah, dan mudah dipahami
Lantai 1
ZONASI
+ Resepsionis
+ Peta Posisi Wilayah
+ Sejarah Penelitian
+ Model Geologi
+ Gunungapi Purba
+ Invertebrata
+ Galery Foto Ekskavasi
+ Storage
Lantai pertama menjadi awal perjalanan untuk memahami konteks dan sejarah penemuan fosil di Nganjuk. Dimulai dari zona resepsionis dan peta posisi wilayah, pengunjung kemudian diperkenalkan pada sejarah penelitian, model geologi, serta gunungapi purba yang menjelaskan bagaimana lanskap dan lapisan bumi membentuk tempat ditemukannya fosil.
Selanjutnya, pengunjung memasuki zona invertebrate yang menampilkan fosil mahkluk tanpa tulang belakang sebelum tiba di gallery foto ekskavasi yang menunjukkan proses kerja lapangan. Susunan zona ini membantu pengunjung mengikuti alur cerita secara jelas – dari mengenal wilayahnya hingga melihat bukti kehidupan purba yang berhasil ditemukan.
Lantai 2
ZONASI
+ Vertebrata
+ Gajah Tritik
+ Koleksi Masterpiece
+ Prasejarah dan Klasik
Lantai kedua menampilkan koleksi utama yang menjadi sorotan temuan fosil di Tritik. Pengunjung dimulai dari zona vertebrata, lalu menuju area Gajah Tritik yang menampilkan fosil Stegodon – salah satu temuan paling lengkap dan penting dari Kawasan ini, termasuk bagian gading yang memberi gambaran jelas tentang hewan purba tersebut.
Setelah itu, zona masterpiece memperlihatkan temuan-temuan unggulan, sebelum perjalanan ditutup di zona prasejarah dan klasik yang memberi konteks waktu lebih luas. Rangkaian ini membantu pengunjung memahami cerita besar kehidupan purba melalui koleksi-koleksi penting di lantai dua.
INTERIOR DESIGN
Bagian ini menjelaskan rancangan desain untuk tiap zona di museum. Setiap ruang dirancang dengan karakter visual dan alur cerita yang berbeda, disesuaikan dengan tema koleksi yang ditampilkan. Melalui pendekatan ini, setiap zona tidak hanya berfungsi sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pengalaman ruang yang membantu pengunjung memahami cerita secara lebih jelas dan terarah.
RESEPSIONIS

Resepsions
Area resepsionis Museum Tritik dirancang dengan atmosfer hangat dan natural, menonjolkan material kayu sebagai elemen utama. Instalasi potongan batang kayu berbentuk lingkaran-lingkaran beragam ukuran tersusun rapat pada dinding belakang, menciptakan pola organik yang langsung mengingatkan pada karakter Desa Tritik sebagai penghasil kayu jati. Pencahayaan lembut dari plafon mempertegas tekstur dan warna kayu, menghadirkan nuansa tenang, elegan, dan selaras dengan identitas lokal yang ingin dihadirkan museum.

Resepsions
Seluruh komposisi menghadirkan kesan bahwa Museum Tritik bukan hanya ruang edukasi, tetapi juga pernyataan visual tentang kebanggaan terhadap potensi lokal—khususnya kekayaan kayu jati yang telah menjadi identitas Desa Tritik.
PETA WILAYAH

Peta Wilayah
Area ini menampilkan peta administrasi Desa Tritik yang disajikan dengan frame kayu bergaris bersih, menciptakan tampilan minimalis dan rapi. Penggunaan frame ini memberikan batas visual yang jelas antara karya dan dinding, sekaligus menghadirkan nuansa eksklusif yang modern dan elegan. Kehadirannya membantu menonjolkan karya tanpa mengalihkan perhatian, sehingga ruang terasa lebih terkurasi.

Peta Wilayah
Area ini juga diperkuat dengan penambahan lampu sorot di bagian atas, memberikan sentuhan gallery-style yang premium. Cahaya hangat yang jatuh langsung pada peta menghadirkan atmosfer yang lebih berkelas, mempertegas kesan eksklusif dan profesional. Dengan pencahayaan yang terarah dan lembut, karya tampil lebih menonjol dan menjadi focal point yang menarik dalam ruangan.
SEJARAH PENELITIAN

Sejarah Penelitian
Area ini merupakan Zona Sejarah Penelitian yang menggunakan dinding berlapis sebagai metafora lapisan tanah. Bentuk stratifikasi ini menghadirkan kesan visual yang kuat sekaligus relevan dengan tema penelitian geologi yang diangkat.
Di bagian atas dinding ditampilkan timeline sejarah penelitian yang tertata ringkas dan informatif. Gabungan antara desain berlapis dan kronologi visual ini membuat area tampil imersif, mudah dipahami, dan tetap estetis
SEJARAH GEOLOGI

Sejarah Geologi
Zona ini merupakan Zona Sejarah Geologi, yang menampilkan desain dinding berlapis untuk mempertahankan kesinambungan visual dengan area sebelumnya. Stratifikasi pada dinding memberikan kesan seperti lapisan bumi, memperkuat konsep geologi yang menjadi dasar narasi ruang ini.
Poster dengan nuansa biru digunakan untuk menggambarkan masa ketika Indonesia masih berada di bawah permukaan laut. Visual kehidupan laut di dalamnya membantu pengunjung memahami konteks waktu dan kondisi lingkungan pada periode tersebut, menjadikan zona ini informatif sekaligus imersif
GUNUNGAPI PURBA
Zona ini adalah Zona Gunungapi Purba, yang tetap menggunakan desain dinding berlapis untuk menjaga kesinambungan visual dengan tema sebelumnya.
Stratifikasi pada dinding memberikan kesan geologis yang konsisten, sekaligus memperkuat cerita mengenai proses vulkanik yang membentuk lanskap masa lalu.
Zona ini ditempatkan tepat di sebelah jendela karena apa yang ditampilkan pada poster berkaitan langsung dengan pemandangan di luar. Gunung yang tampak dari jendela menjadi representasi nyata bahwa jejak gunungapi purba yang diceritakan dalam visual masih ada hingga hari ini, sehingga pengunjung dapat dengan mudah menghubungkan narasi dengan kondisi geologi yang masih bertahan
STRATIGRAFI

Stratigrafi
Zona ini adalah Zona Stratigrafi, yang menyajikan informasi tentang susunan lapisan tanah di Desa Tritik. Melalui panel yang ditata secara vertikal, pengunjung dapat melihat urutan lapisan tanah mulai dari bagian paling atas hingga lapisan terdalam, sesuai dengan metode pengambilan sayatan tanah di lapangan.
Struktur penyajian yang berurutan ini membantu pengunjung memahami bagaimana setiap lapisan terbentuk dan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan menampilkan potongan tanah asli, zona ini memberikan gambaran nyata mengenai sejarah geologi lokal serta proses yang berlangsung selama berabad-abad.
INVERTEBRATA

Invertebrata
Zona ini adalah zona Invertebrata, dengan desain background ilustratif yang dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian bawah menampilkan visual laut dangkal, sementara bagian atas menggambarkan area laut transisi. Pembagian ini membantu menunjukkan perubahan kedalaman dan karakter lingkungan tempat organisme invertebrata pernah hidup.

Invertebrata
Ilustrasi tersebut digunakan untuk memberikan konteks habitat secara langsung, sehingga pengunjung dapat memahami bagaimana makhluk-makhluk tersebut hidup dan beradaptasi di lingkungannya. Penempatan fosil pada display kemudian melengkapi narasi visual ini, membuat hubungan antara bentuk fosil dan habitat aslinya menjadi lebih mudah dipahami.
JEMBATAN NARASI

Jermbatan Narasi
Zona ini disebut Zona Jembatan Narasi, karena berfungsi menghubungkan materi lantai 1 yang berfokus pada konteks geologi awal dan fosil dasar dengan materi lantai 2 yang menampilkan vertebrata, hingga peradaban klasik.
Monitor dan kutipan yang ditampilkan mempertegas peran zona ini sebagai ruang peralihan yang membantu pengunjung memasuki bab cerita berikutnya secara lebih runtut.
Zona ini juga dapat dipahami sebagai Prakata Kehidupan, karena kutipan yang ditampilkan memberi jeda reflektif sebelum pengunjung melanjutkan perjalanan menuju tema kehidupan purba. Dengan pendekatan ini, pengunjung diajak menyadari bahwa geologi dan fosil bukan hanya materi fisik, tetapi bagian dari kisah besar tentang perjalanan bumi dan makhluk hidup.
GALERI FOTO EKSKAVASI

Galei Foto Ekskavasi
Desa Tritik di Nganjuk mulai mendapat perhatian setelah berbagai fosil muncul dari kawasan ini. Temuan yang beragam—mulai dari fosil vertebrata hingga invertebrata—memberikan gambaran bahwa wilayah ini menyimpan rekaman lingkungan purba yang kaya dan perlu dipahami lebih jauh.

Galeri Foto Ekskavasi
Di antara temuan tersebut, satu penemuan menjadi titik penting: fosil gajah purba Stegodon trigonochephalus yang tersimpan dengan tingkat kelengkapan sekitar 70%. Kondisi seperti ini jarang terjadi dan memberikan peluang besar untuk memahami kehidupan masa lalu secara lebih mendalam.
VERTEBRATA

Zoan vertebrata ini dirancang dengan alur visual berlekuk-lekuk untuk menandai bahwa materi yang disampaikan tidak berdiri sendiri, tetapi terbagi ke dalam beberapa bab cerita yang saling terhubung. Setiap lekukan menjadi batas alami yang mengantar pengunjung dari satu lanskap kehidupan vertebrata ke lanskap berikutnya — mulai dari gambaran kehidupan di rawa transisi, di mana predator dan herbivor purba berbagi ruang yang sama, lalu bergerak ke padang savana yang lebih terbuka dengan kehadiran mamalia besar dan dinamika ekologi yang berbeda.

Vertebrata
Perjalanan visual ini kemudian berakhir pada bagian biostratigrafi, tempat fosil-fosil yang ditemukan di lapisan bumi dijelaskan dalam konteks waktu dan perubahan lingkungan. Dengan pendekatan ini, dinding bukan hanya menjadi penampang estetis, tetapi sebuah alur naratif tiga bab yang membuat pengunjung memahami bagaimana kehidupan vertebrata berkembang dan terekam dalam batuan dari masa ke masa.
GAJAH TRITIK

Desa Tritik di Nganjuk mulai mendapat perhatian setelah berbagai fosil muncul dari kawasan ini. Temuan yang beragam—mulai dari fosil vertebrata hingga invertebrata—memberikan gambaran bahwa wilayah ini menyimpan rekaman lingkungan purba yang kaya dan perlu dipahami lebih jauh.

Gajah Tritik
Di antara temuan tersebut, satu penemuan menjadi titik penting: fosil gajah purba Stegodon trigonochephalus yang tersimpan dengan tingkat kelengkapan sekitar 70%. Kondisi seperti ini jarang terjadi dan memberikan peluang besar untuk memahami kehidupan masa lalu secara lebih mendalam.
PRA SEJARAH DAN MASA KLASIK

Pra Sejarah & Klasik
Desa Tritik di Nganjuk mulai mendapat perhatian setelah berbagai fosil muncul dari kawasan ini. Temuan yang beragam—mulai dari fosil vertebrata hingga invertebrata—memberikan gambaran bahwa wilayah ini menyimpan rekaman lingkungan purba yang kaya dan perlu dipahami lebih jauh.
Di antara temuan tersebut, satu penemuan menjadi titik penting: fosil gajah purba Stegodon trigonochephalus yang tersimpan dengan tingkat kelengkapan sekitar 70%. Kondisi seperti ini jarang terjadi dan memberikan peluang besar untuk memahami kehidupan masa lalu secara lebih mendalam.(Sumber: Museum Geologi)
Reporter : Sukadi










