Menu

Mode Gelap
Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya Museum Tritik: Apa yang Diungkapkan Bumi, Kita Bertanggung Jawab untuk Melestarikannya PWI Nganjuk Peduli Ekologi, Tanam Ribuan Pohon Antisipasi Bencana Hidrometeorologi Ditemukan Sarkopagus Megalitukum di Hutan Tritik, TACB Nganjuk Segerakan Masuk Dapobud TACB Gresik Rekomendasikan 4 Objek di Kompleks Makam Puspanegara dan 3 Panji Sidayu Jadi Cagar Budaya Kabupaten

Budaya

Ditemukan Arca Mahakala dan Perwujudan Bukti Situs Condrogeni Pertapan Para Resi

badge-check


					Suryanto, juru pelihara Condrogeni membersihkan hasil temuan arca perwujudan dan mahakalan (Foto_Sukadi) Perbesar

Suryanto, juru pelihara Condrogeni membersihkan hasil temuan arca perwujudan dan mahakalan (Foto_Sukadi)

Nganjuk, anjukzone.id – Kembali tersingkap bahwa di sepanjang lereng Gunung Wilis menyimpan peninggalan benda-benda kuno berumur ratusan tahun. Belum lama, seorang juru pelihara Suryanto, (60) menemukan sejumlah fragmen arca di sekitaran lokasi Condrogeni, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk.

Fragmen arca yang diduga potongan tubuh arca mahakala, arca perwujudan, batu candi dan beberapa potongan bagian tubuh arca lainnya ditemukan di sela-sela hutan pinus.

Suryanto menduga, di sekitar lokasi temuan, masih banyak tersembunyi fragmen arca dan benda-benda kuno, bahkan masih ada yang utuh. Hanya saja, juru pelihara yang sudah puluhan tahun merawat lokasi Condrogeni itu harus dengan sabar membersihkan semak-semak yang melilit bebatuan untuk dapat menemukan arca yang lainnya.

Awalnya menurut Suryanto, fragmen arca berbahan batu andesit tersebut ditemukan saat memberihkan semak-semak di sekitar lokasi Condrogeni. Ia melihat beberapa batu mirip tubuh manusia. Bentuknya menyerupai dua arca Dwarapala yang ada sebelumnya. Ketika disingkap lebih lanjut, ternyata ditemukan sejumlah potongan arca yang lain.

“Saat itu saya sedang bersih-bersih rumput, kok ada batu mirip arca yang di bawah (Dwarapala, Red), terus saya laporkan ke Pak Amin,” jelas Suryanto, Kamis, 13 November 2025.

Hasil temuan fragmen arca di lokasi Condrogeni (foto_Sukadi)

Penasaran dengan hasil temuannya, Suryanto lantas menutupnya kembali dengan ranting-ranting agar tidak terlihat orang. Selanjutnya, ia melaporkan kepada Kabid Kebudayaan Dinas Porabudpar Kabupaten Nganjuk.

“Takut kalau dilihat orang dan diambil, maka saya tutup lagi,” kata Suryanto.

Mendapat laporan dari Suryanto, Kabid Kebudayaan Amin Fuadi memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pendataan.

Untuk mencapai lokasi temuan, tim Dinas Porabudpar didampingi Komunitas Kotasejuk dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk harus melewati jalan setapak dan menanjak. Berjarak sekitar dua kilo meter dari jalan utama atau tiga kilo meter di bawah air terjun Sedudo. Di sepanjang perjalanan menuju lokasi temuan, tim dimanjakan oleh keindahan alam lereng Gunung Wilis yang didominasi oleh tegakan pohon pinus, cengkeh, tanaman kopi, serta jutaan tanaman liar yang lain. Di antara hembusan udara yang sejuk dan segar terdengar alunan musik alami dari binatang berbuku bernama gareng pung. Suaranya begitu khas, menyertai sepanjang langkah tanpa lelah. Namun begitu masih dimanjakan oleh pemandangan ke bawah hamparan kota Nganjuk yang dapat dinikmati dengan jelas dari ketinggian di atas 1000 meter lebih dari permukaan air laut. Suara gemericik air pancuran dari aliran sungai-sungai kecil yang airnya jernih mengkilat pun turut menemani tiap langkah kaki. Tak heran bila lereng Gunung Wilis pantas menjadi tujuan wisata alam karena kecantikannya yang di dalamnya juga menyimpan peninggalan kuno bernilai sejarah.

Tim Dinas Porabudpar Nganjuk, Kotasejuk, dan TACB Nganjuk melakukan pendataan temuan fragmen arca di lokasi Condrogeni (foto_Sukadi)

Buktinya, dua buah arca Dwarapala tambun berukuran tinggi 1 meter lebih, menjadi pengingat bahwa peradaban di wilayah Lereng Gunung Wilis sudah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Kendati hasil budayanya masih terkesan sederhana dari bahan seadanya pula, setidaknya dapat menjadi kebanggaan bahwa nenek moyang kita dulu telah berjasa membangun peradaban.

Dari jejak peninggalan berupa arca Dwarapala, Mahakala, dan Perwujudan membuktikan bahwa benda-benda kuno tersebut dipahat bukan untuk kebutuhan bangunan candi yang megah atau pelengkap bangunan istana, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan ritual oleh para petapa.

“Lokasi Condrogeni memiliki ciri-ciri kuat sebagai karesian, yaitu tempat pertapaan atau kadewaguruan masa Hindu–Buddha. Letaknya di ketinggian simbol menuju nirwana. Dekat sumber air sebagai sumber kehidupan dan media bersuci. Jauh dari permukiman, untuk mandito – menjauhkan dari urusan kedununiawian,” jelas Humas Kotasejuk.

Rata-rata, lanjut Sekretaris TACB Kabupaten Nganjuk, hasil temuan arca dan benda-benda kuno di sepanjang Lereng Gunung Wilis wilayah Nganjuk merujuk pada era transisi Mataram Kuno dengan Kahuripan Raja Airlangga hingga berlanjut pada dinasti Majapahit. Para ahli menyebut sebagai lokasi pertapaan para resi.

“Maka banyak ditemukan arca perwujudan atau tokoh di sepanjang Lereng Gunung Wilis,” tegas Sukadi.

Langkah selanjutnya, hasil temuan dilakukan pendaftaran sebagai obyek diduga cagar budaya (ODCB) untuk dikaji lebih lanjut sebelum direkomendasikan untuk ditepkan sebagai cagar budaya oleh Bupati Nganjuk.

Reporter : Aries Trio Effendy

Editor: Dea

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba

30 Desember 2025 - 09:32 WIB

Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya

21 Desember 2025 - 22:27 WIB

Museum Tritik: Apa yang Diungkapkan Bumi, Kita Bertanggung Jawab untuk Melestarikannya

20 Desember 2025 - 00:52 WIB

PWI Nganjuk Peduli Ekologi, Tanam Ribuan Pohon Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

18 Desember 2025 - 23:59 WIB

Ditemukan Sarkopagus Megalitukum di Hutan Tritik, TACB Nganjuk Segerakan Masuk Dapobud

18 Desember 2025 - 11:35 WIB

Trending di Budaya