Menu

Mode Gelap
Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya Museum Tritik: Apa yang Diungkapkan Bumi, Kita Bertanggung Jawab untuk Melestarikannya PWI Nganjuk Peduli Ekologi, Tanam Ribuan Pohon Antisipasi Bencana Hidrometeorologi Ditemukan Sarkopagus Megalitukum di Hutan Tritik, TACB Nganjuk Segerakan Masuk Dapobud TACB Gresik Rekomendasikan 4 Objek di Kompleks Makam Puspanegara dan 3 Panji Sidayu Jadi Cagar Budaya Kabupaten

Budaya

Arca Dwarapala Condrogeni Penjaga Pintu Gerbang Pertapaan Lereng Wilis

badge-check


					Arca Dwarapala Condrogeni I (foto_Sukadi) Perbesar

Arca Dwarapala Condrogeni I (foto_Sukadi)

Nganjuk,  –anjukzone.id Arca Dwarapala Condrogeni merupakan peninggalan sejarah yang penting, terletak di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, tepatnya di RPH Gedang Klutuk, Petak 18 D, dengan koordinat 7.771951 S – 111.753874 E pada ketinggian ±1.101 MDPL.

Lokasinya berada di lereng Gunung Wilis, ±3 km dari jalur utama Sawahan–Ngliman, dan secara geografis termasuk dalam kawasan hutan dengan vegetasi rapat.

Arca ini dikenal masyarakat sebagai penjaga ruang sakral Condrogeni, terdiri dari dua arca: satu di bagian bawah, berjenis kelamin laki-laki dan satu di bagian atas, berjenis kelamin perempuan.

“Kajian ini memfokuskan pada Arca Dwarapala Condrogeni 1 (bagian bawah, Red) berdasarkan hasil observasi lapangan terbaru dan perbandingan dengan arca sezaman di Jawa Timur,” jelas Nara Setya Wiratama, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Nganjuk saat melakukan konservasi,  pada Minggu, 05 Oktober 2025.

Sebagai bagian dari warisan budaya masa Hindu-Buddha, lanjut Nara, arca Dwarapala berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang (dvarapala, dari Sanskerta: dvāra = pintu, pāla = penjaga). Wujudnya menggambarkan makhluk raksasa sakral (yaksha atau rakshasa) dengan sikap waspada dan simbol perlindungan spiritual.

“Fungsi arca Dwarapala di Jawa tidak hanya pelindung fisik, tetapi juga representasi keseimbangan kosmik antara kekuatan baik dan jahat,” tegasnya.

Sejarahnya, arca Dwarapala menggambarkan sosok raksasa penjaga gerbang (dvarapala) yang menempati posisi duduk jongkok setengah siaga (half-kneeling position). Ciri wajah garang dengan taring dan mata melotot merupakan bentuk ekspresi sakral pelindung dunia suci. Sikap tangan kanan memegang gada adalah lambang kekuatan dan kewaspadaan spiritual (vajra), sedangkan tangan kiri memegang cawet menunjukkan pengendalian diri — menandakan kekuatan yang terkendali, bukan destruktif.

Ekspresi ini merepresentasikan prinsip keseimbangan antara kekuatan dan ketenangan dalam konsep kosmologi Hindu-Jawa. Dalam konteks spiritual, Dwarapala tidak semata penjaga gerbang fisik, tetapi juga “penyaring moral” bagi mereka yang memasuki ruang suci.

Ciri gaya arca Condrogeni menunjukkan peralihan dari kehalusan arca Singosari menuju kesederhanaan Majapahit awal; proporsi tubuh kompak dan pendek, kepala besar (lingkar 193 cm) — ciri khas arca penjaga lokal. Pahatan kasar, menandakan pengerjaan lokal non-istana. Ornamen minimalis: kalung, kelat bahu, dan anting polos. Ekspresi wajah sederhana, statis, tanpa detil anatomi halus.

Arca Dwarapala 2 Condrogeni (Foto_Sukadi)

Seni pahat seperti ini juga ditemukan di Adan-Adan Kediri dan Wringinlawang Trowulan, mencerminkan pergeseran gaya monumental menjadi lokalistik-fungsional.

Berikut adalah kondisi Dwarapala I Condrogeni saat ini; terbuat dari batu andesit kasar berwarna coklat muda keabu-abuan. Tinggi arca 125 cm, lebar depan dan samping 90 cm x 90 cm, dan lingkar kepala 193 cm.

Posisi tubuh  duduk jongkok, lutut kanan tegak, kaki kiri dilipat di bawah tubuh. Tangan kanan memegang pedang vertical di sisi paha kanan. Panjang pedang yang tersisa 80 cm, dan pada bagian ujung patah.

Tangan kiri diletakkan di depan perut, memegang cawet ata ikat pinggang. Bentuk hidung besar sudah cuil, mulut terbuka – menampakkan 6 gigi dengan taring kanan atas dan bawah, panjang 6 cm, dan kondisi taring aus.
Atribut mengenakat tekes atau ikat kepala panjang 50 cm, dengan kondisi rambut gondrong berikal tergerai ke bawah, panjang sekitar 100 cm.

Perhiasan, anting bulat polos diameter luar 10 cm, dalam 5 cm, kalung melengkung 34 cm, patah di tengah, kelat bahu ganda 29 cm dan 33 cm.

Teknik pahat Direct carving, kasar tanpa polish akhir, dan kondisi fisi cuil pada hidung, mata kiri, telinga kiri, kalung patah, permukaan aus, serta posisi arca tetap tegak dan stabil.

Di lokasi Condrogeni terdapat dua arca Dwarapala. Yaitu, arca Dwarapala I berada di bawah, dan arca Dwarapala II berada di atas. Masing-masing memunyai nilai penting bagi sajarah peradaban kuna. Aarca Dwarapala I Condrogeni, menggambarkan konsep Purusa–Pradhana (laki-laki dan perempuan), melambangkan keseimbangan kosmik dan penjaga dua tingkat dunia: dunia bawah seperti Arca Dwarapala I Condrogeni dan dunia tengah seperti Arca Dwarapala II Condrogeni.

“Kedua arca menghadap ke utara, memperkuat fungsinya sebagai penjaga jalur spiritual menuju area suci di lereng Gunung Wilis, arah yang secara kosmologis dianggap sacral,” pungkas Nara.

Reporter : Sukadi

Editor: Dea

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba

30 Desember 2025 - 09:32 WIB

Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya

21 Desember 2025 - 22:27 WIB

Museum Tritik: Apa yang Diungkapkan Bumi, Kita Bertanggung Jawab untuk Melestarikannya

20 Desember 2025 - 00:52 WIB

PWI Nganjuk Peduli Ekologi, Tanam Ribuan Pohon Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

18 Desember 2025 - 23:59 WIB

Ditemukan Sarkopagus Megalitukum di Hutan Tritik, TACB Nganjuk Segerakan Masuk Dapobud

18 Desember 2025 - 11:35 WIB

Trending di Budaya