Menu ✖

Mode Gelap
Jelajah Situs Pendidikan Sejarah UNP Kediri: Mengulik Jejak Sejarah Prasasti Ser Jambi dan Mataji Menolak Reduksi Makna Pendidikan: Kritik Tajam dan Solusi atas Wacana Pembubaran Program Studi Peran Komunikasi Eefektif Untuk Meningkatkan Kinerja Tim dalam Organisasi Punden Joko Dolog Tritik Masih Jadi Incaran Oknum Pelaku Spiritual Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya

Budaya

Jelajah Situs Pendidikan Sejarah UNP Kediri: Mengulik Jejak Sejarah Prasasti Ser Jambi dan Mataji

badge-check


					Jelajah Situs Prodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri di Prasasti Mataji, Desa Bangle, Kecamatan Lengkong. (Foto_mhs UNP Kediri) Perbesar

Jelajah Situs Prodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri di Prasasti Mataji, Desa Bangle, Kecamatan Lengkong. (Foto_mhs UNP Kediri)

Nganjuk, anjukzone.id – Belajar sejarah tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Semangat tersebut diwujudkan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah (Himaprodi) Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri melalui kegiatan “Jelajah Situs Prodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri”, di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk pada Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan yang menjadi agenda rutin Divisi Observasi Himaprodi Pendidikan Sejarah tersebut melibatkan mahasiswa untuk belajar langsung dari sumber sejarah dengan mengunjungi Prasasti Bangle I atau Ser Jambi dan Prasasti Bangle II atau Prasasti Mataji.

Ketua Himaprodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri, Nadia Dewi Kesumawardhani, mengatakan bahwa kegiatan Jelajah Situs merupakan bagian dari agenda rutin Divisi Observasi yang bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa melalui pengamatan terhadap objek sejarah di lapangan.

“Jelajah Situs merupakan kegiatan rutin Divisi Observasi dibawah koordinasi saudari Arinda, dkk. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar secara langsung dari objek sejarah yang ada di lapangan, sehingga apa yang dipelajari dalam perkuliahan dapat dihubungkan dengan sumber sejarah yang mereka lihat secara langsung,” ujar Nadia.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan materi dari Sukadi, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Nganjuk, serta Wahyu Sukoco, juru pelihara Prasasti Bangle I dan Prasasti Mataji.

Sukadi menjelaskan bahwa keberadaan prasasti tidak hanya penting sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber sejarah yang dapat memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat pada zamannya. Menurutnya, keberadaan prasasti perlu dipahami dalam konteks sejarah, lingkungan, serta masyarakat yang berkaitan dengannya.

“Kedua prasasti, baik Prasasti Ser Jambi maupun Mataji ditemukan di area yang sama, yaitu di Hutan Desa Bangle,” jelas Sukadi.

Hanya saja, lanjut Sukadi, Prasasti Ser Jambi menceritakan tentang penetapan sima untuk para biksu di Desa Ser Jambi era Mataram Medang.

“Merujuk hasil pembacaan arkeolog terdahulu menunjukkan angka tahun 830 Saka, di mana Raja Mataram Medang masih dijabat oleh Dyah Balitung,” tambahnya.

Jelajah Situs Prodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri di Prasasti Bangle I atau Ser Jambi, DEsa Bangle, Kecamatan lengkong. (foto_mhs UNP Kediri)

Sedangkan untuk Prasasti Mataji, menceritakan tentang pemberitan tanah sima kepada penduduk Mataji oleh Raja Pangjalu – Jitendra. Karena penduduk Mataji telah membantu kerajaan Pangjalu memerangi musuh.

“Pada masa itu, telah terjadi perang saudara antara ipar Raja Erlangga, yaitu Jitendera melawa anak Erlangga, Grasakan. Akhirnya, Erlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Jenggala dan Pangjalu,” tegas Sukadi.

Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa sejarah untuk berinteraksi langsung dengan sumber sejarah. Menurutnya, pembelajaran melalui objek secara langsung dapat memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari sejarah melalui buku atau sumber sekunder.

Bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai isi prasasti. Pengamatan langsung juga melatih kemampuan mahasiswa dalam melakukan observasi, mengidentifikasi sumber, memahami konteks sejarah, serta mengomunikasikan hasil pengamatannya.

Hal tersebut sejalan dengan visi pembelajaran yang dikembangkan Program Studi Pendidikan Sejarah UNP Kediri. Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UNP Kediri, Nara Setya Wiratama, mengatakan bahwa kegiatan Jelajah Situs merupakan salah satu penciri program studi dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman pembelajaran sejarah secara langsung.

“Jelajah Situs merupakan salah satu penciri Program Studi Pendidikan Sejarah UNP Kediri. Calon guru sejarah tidak cukup hanya memiliki pengetahuan sejarah, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan pengetahuan tersebut secara baik dan menarik,” ujar Nara.

Menurut Nara, pengalaman mahasiswa mengunjungi situs sejarah juga berkaitan erat dengan kemampuan public speaking yang perlu dimiliki oleh calon guru sejarah.

“Ketika nanti menjadi guru dan mengajak peserta didik melakukan studi lapangan, seorang guru harus mampu mengantar peserta didiknya untuk melihat langsung objek sejarah sekaligus memberikan pemahaman secara langsung. Karena itu, kemampuan public speaking, penguasaan materi, dan pengalaman melihat objek sejarah secara langsung perlu dibangun sejak mahasiswa,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembelajaran sejarah di lapangan memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas. Mahasiswa dapat menghubungkan materi perkuliahan dengan objek, lingkungan, dan konteks kesejarahan secara langsung.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi orang yang mampu menjawab pertanyaan tentang sejarah, tetapi juga mampu menjelaskan sejarah kepada orang lain. Mereka harus mampu melihat sumbernya, memahami konteksnya, kemudian menyampaikan pengetahuan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami,” lanjut Nara.

Kegiatan Jelajah Situs juga memperlihatkan bahwa Kabupaten Nganjuk memiliki kekayaan sumber sejarah yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa. Situs dan tinggalan sejarah tidak hanya menjadi objek pelestarian, tetapi juga dapat berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran sejarah.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman yang lebih utuh dalam mempelajari sejarah, mulai dari mengamati sumber, memperoleh informasi dari narasumber, memahami konteks, hingga mengomunikasikan kembali pengetahuan yang diperoleh.

Bagi Himaprodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri, Jelajah Situs menjadi salah satu bentuk pembelajaran di luar kelas yang mempertemukan mahasiswa dengan sumber sejarah secara langsung. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan kemampuan observasi, komunikasi, berpikir kritis, dan public speaking yang dibutuhkan mahasiswa sebagai calon pendidik sejarah.

Belajar sejarah bukan hanya membaca masa lalu, tetapi juga datang, melihat, memahami, dan mampu menceritakannya kembali kepada generasi berikutnya. Jelajah Situs Prodi Pendidikan Sejarah UNP Kediri — belajar sejarah langsung dari sumbernya.

Reporter : Aries Trio Effendy

Editor : Dea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menolak Reduksi Makna Pendidikan: Kritik Tajam dan Solusi atas Wacana Pembubaran Program Studi

29 April 2026 - 00:03 WIB

Punden Joko Dolog Tritik Masih Jadi Incaran Oknum Pelaku Spiritual

3 April 2026 - 12:44 WIB

Menhir di Punden Joko Dolog (Foto_sukadi)

Komunitas Kotasejuk Temukan Fosil, Diduga Cranium Tengkorak Manusia Purba

30 Desember 2025 - 09:32 WIB

Terpilih Jadi Ketua DPC PDIP Nganjuk 2025 – 20230, Marhaen Djumadi Hendak Evaluasi Kinerja Partainya

21 Desember 2025 - 22:27 WIB

Museum Tritik: Apa yang Diungkapkan Bumi, Kita Bertanggung Jawab untuk Melestarikannya

20 Desember 2025 - 00:52 WIB

Trending di Budaya