Nganjuk, anjukzone.id – Punden Joko Dolog adalah nama yang diberikan masyarakat lokal saat ini untuk menyebut sebuah struktur punden dari bahan batu-batu besar, yang secara administratif terletak di Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Lokasi struktur megalitik ini terletak di kawasan hutan di Petak 41 RPH Turi, BKPH Tritik, KPH Nganjuk. Secara astronomis, situs ini terletak pada 7˚ 30’ 21,1″ LS dan 111˚ 51’ 01,5″ BT, sedangkan secara geografis terletak pada sebuah puncak bukit yang tidak terlalu tinggi sekitar 20-meter dari permukaan tanah di sekitarnya, dan bukit ini masih berada pada jajaran Pegunungan Kendeng. Vegetasi yang mendominasi situs Punden Joko Dolog adalah pohon jati dan sono keling yang tumbuh di sekitar sela-sela struktur punden.
Menurut Kabid Kebudayaan Dinas Porabudpar Nganjuk, Amin Fuadi, dahulu kala pada bagian puncak bukit petilasan ini terdapat dua struktur semacam “kursi batu”, namun karena kurangnya kesadaran masyarakat, banyak batu-batu bagian dari struktur yang diambil untuk perkuatan jalan, penanda tanaman dan tujuan lainnya.
“Maka saat ini hanya tersisa satu struktur di bagian timur, sedangkan struktur di bagian barat tinggal sisa-sisanya saja,” jelasnya.
Lanjut Amin, dua struktur yang disebut masyarakat seperti “kursi batu” sesungguhnya adalah dua menhir dengan batu datar untuk menaruh sesaji.
Pada struktur di sebelah timur yang masih relatif utuh terdapat sebuah menhir dilengkapi dengan sebuah batu datar yang dikelilingi oleh batu- batu boulder dari bahan batu andesit dan breksi vulkanik.
“Orientasi menhir ke arah timur, padahal di sebalah utara dari petilasan ini terdapat Gunung Pandan,” tegasnya.
Belum dapat diketahui secara pasti periodesasi dan fungsi dari petilasan ini. Tidak adanya temuan lepas di permukaan area situs menyulitkan untuk memperkirakan usia bangunan di situs ini. Namun masyarakat sekitar masih mensakralkan dengan melaksanakan prosesi doa keselamatan sebelum menanam dan panen hasil bumi yang ditanam di sekitar area hutan.
”Sampai sekarang masih ada oknum-oknum tertentu yang datang khusus untuk melakukan ritual untuk ngalap berkah. Ini tampak dari sesaji minyak wangi dan bakaran dupa yang masih baru,” pungkas Amin.
Reporter : Sukadi
Editor : Deasy










